Prabowo Subianto memulai renaisance Indonesia dengan program-program populis. Dia berangkat dari hal dasar: semua rakyat berhak bahagia. Dia memilih di sisi yang papa dan jelata. Oleh: Ragil Nugroho Komitmen Prabowo agar wong cilik gumuyu (orang kecil tersenyum), mulai terlihat. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bahwa setelah zaman Kaliyuga (kegelapan) akan menjul zaman Kertayuga (keemasan). Ķaliyuga ditandai dengan perang, pandemi, bencana alam dan kelaparan. Sepertinya Prabowo paham siklus ini sehingga dia berusaha membawa bangsa Indonesia menuju zaman Kertayuga dengan kebijakan yang populis. Prabowo menempatkan diri sebagai Semar yang mengayomi wong cilik . Posisi dia pilih karena kecintaannya kepada yang terpinggirkan, baik secara sosial maupun ekonomi. Prabowo yang pada awalnya seorang kstaria yang digembleng di Lembah Tidar, memilih menjadi Ki Lurah Badrayana: pelindung orang-orang miskin. Dalam struktur masyarakat, guru menempati posisi sentral. Mereka ada...
Orang Jawa menyebutnya 'wis wayahe'. Sekarang sudah waktunya PDIP memasuki masa kerontokkannya. Pilkada serentak yang dilaksanakan baru-baru ini memperlihatkan ambrolnya PDIP dalam perpolitikan Indonesia. Inilah senjakala itu. Oleh: Ragil Nugroho Rabo Pon, 27 November 2024, lonceng kematian bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah berdentang. Pada akhirnya PDIP hanya raksasa berkaki lempung yang bersemanyam di kandang pasir: rontok! Sejak rakyat Indonesia masuk bilik suara jam 8 pagi sampai jam 1 siang, hanya kurang lebih 5 jam, PDIP hancur berantakan. Kejumawaan selama ini runtuh dalam waktu sekejap. Apa yang sejauh ini digembar gemborkan sebagai kandang Banteng, Jawa Tengah, luluh lantak. Seperti terkena efek domino, basis-basis Banteng seperti Boyolali, Surakarta, runtuh satu per satu. Itu baru di Jawa Tengah. Sampai sekarang kita tak tahu kondisi Hasto. Bisa jadi dia masih mencret-mencret akibat kekalahan yang diderita PDIP. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Ten...