Langsung ke konten utama

Postingan

TERBAKARNYA KANDANG BANTENG DI DEPOK

Kaesang adalah medan pertarungan bagi PSI. Dalam medan ini PSI akan dilihat sebagai petarung atau pecundang ketika berhadapan dengan PDIP Oleh: Ragil Nugroho (Mantan Redaktur Pembebasan) Adalah suatu kewajaran bila Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kalang kabut dengan manuver Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Selama hampir 20 tahun, PKS selalu menguasai Depok. Tak mengherankan ketika PSI hendak mengusung Kaesang, PKS langsung reaktif. Sebagai figur muda, Kaesang berhasil menjadi simbol kekuatan angkatan muda yang hendak mengubah wajah Depok yang terbelakang selama dikuasai PKS menjadi Depok yang modern. Tapi tiba-tiba terjadi keanehan. PKS yang bermain api, PDIP yang terbakar kandangnya. Ada apa ini? Sikap PDIP mirip bocah kurang kreatif. Mereka tak mampu mengikuti perkembangan zaman dalam merespon perpolitikan kiniwari. Mungkin itu karena figur Ketua Umumnya yang semakin uzur, sementara orang-orang di sekitarnya cuma  AMS (Asal Mamak Senang). Akibatnya, ketika partai lain berma...

CAWE-CAWE JOKOWI DI PEMILU 2024: TITIK PISAH JOKOWI DAN MEGAWATI

Bisa dikatakan, Jokowi dan Megawati/PDIP ibarat satu bantal, tapi beda mimpi. Oleh: Ragil Nugroho (Pengamat buku-buku CIA) Ada tugas berat yang harus dipanggul Jokowi untuk menjaga jalan baru kapitalisme Indonesia. Musuh besar yang akan menelikung jalan tersebut justru berada di lingkarannya sendiri, yaitu PDIP. Partai ini, yang mendapat berkah dari reformasi hingga berkembang menjadi kekuatan oligarki, adalah rumah bagi konglomerat-konglomerat lama, markas pensiunan tentara Orde Baru, benteng pengusaha-pengusaha menengah dan birokrat-birokrat politik,  basecamp  para pengembara politik yang malas pulang. Intinya, manusia-manusia bermental setipe yang belum di-upgrade sejak era radio HT alias masih bermental lama warisan Orde Baru, juga punya bakat bawaan lahir yang sama: kongkalikong. Mereka ini akan berusaha menjegal upaya Jokowi untuk menempatkan Indonesia dalam jalur kapitalisme yang benar. Bisa dikatakan, Jokowi dan Megawati/PDIP ibarat satu bantal, tetapi beda mim...

PSI DAN TIKUS

Bila masing-masing kader PSI berada di tengah rakyat maka akan lebih mudah menghitung daerah merah, yaitu daerah yang telah kita kuasai. Oleh: Danang Dananjoyo (Pensiunan) Menjelang senja, orang-orang kampung biasanya bergerombol di teras rumah, pos ronda atau perempatan jalan. Sembari bergerombol, mereka mencoret-coret tanah, entah dengan jari tangan atau ranting. Apa yang mereka lakukan? Meramal nomor togel. Paling tidak sehari dua kali togel diputar. Togel Singapura diputar jam 18.00, sementara togel Hongkong jam 23.00. Ada semacam Kitab Togel. Lewat kitab tersebut kita bisa menafsirkan mimpi semalam atau pertanda-pertanda apa saja, seperti bertemu orang tua, kejatuhan cicak atau kedatangan kucing hitam. Kitab tersebut berisi macam-macam hal terkait nomor togel. Bila bekicot memiliki nomor 02, anjing berkaitan dengan nomor 11. Bagaimana dengan nomor tikus? Nomor tikus adalah 15. Kita tahu nomor punggung PSI (Partai Solidaritas Indonesia) adalah 15. Ada semacam keyakinan di kampu...

SENJAKALA PDIP

Sepertinya PDIP sudah kesulitan membendung arus balik politik. Kanjeng Mami semakin ditinggalkan wong cilik. Oleh: Ragil Nugroho (Penikmat ikan koi) Aktivis tani era 90an yang pernah dicabut kumisnya oleh introgrator ketika tertangkap, Hari Gombloh, mengungkapkan bahwa pendukung Ganjar di tapal Kulonprogo tipis alias kecil. Padahal, beber warga Brosot ini, Kulonprogo merupakan salah satu kandang Banteng. Menurutnya, ini wajar karena Kulonprogo dekat dengan Wadas. Seperti kita tahu, selama beberapa tahun Wadas merupakan titik episentrum perlawanan terhadap Ganjar dan PDIP. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ada ungkapan, " Sadumuk bathuk sanyari bumi ". Ungkapan ini bermakna bahwa satu sentuhan pada dahi dan satu pengurangan ukuran atas tanah (bumi) selebar jari saja bisa dibayar, dibela dengan nyawa (pati). Bagi orang Jawa, tanah adalah kehormatan dan harga diri. Sebagaimana sentuhan pada dahi yang menurut orang Jawa adalah penghinaan, maka penyerobotan tanah walaupun han...

FX. RUDY DAN KARAKTER POLITIK PDIP

Bila laknat Tuhan tidak mempan, maka Mamaknya FX. Rudy yang harus turun tangan. Oleh: Ragil Nugroho (Penggemar Husky) FX. Rudy sudah ditinggalkan zaman. Ia terseok-seok mengikuti dinamika politik kaum muda. Jadilah ia merasa harus memanggil-manggil Tuhan. Ia lupa, sejak abad ke-19  gereja sudah memisahkan diri dari kekuasaan politik. Urusan kekuasaan tak ada sangkut pautnya lagi dengan Bapa di surga. Sebagai seorang Katolik, semestinya FX. Rudy memahami hal ini: tak perlu mengajak Tuhan bermain politik. Tapi FX. Rudy sepertinya lebih cocok hidup di Abad Kegelapan, ketika seseorang yang mempelajari karya Aristoteles tentang tawa harus dihukum. Konon tawa bisa mendatangkan laknat Tuhan.  Politik hari ini adalah politik kaum muda yang tak dipahami oleh FX. Rudy. Anak-anak muda mempunyai adagiumnya sendiri: politik secukupnya, berkawan sebanyaknya. Inilah yang melatari gaya politik Gibran. Sebagai bagian dari kaum milenial, Gibran memiliki langgam politiknya sendiri. Ia tak mau te...

LIMA KALI KEMENANGAN JOKOWI DAN TIGA KALI KEKALAHAN MEGAWATI (Tanggapan untuk Adian Napitupulu)

Itulah karakter khas politik PDIP: membalas air susu dengan air tuba. Oleh: Ragil Nugroho (Aktivis 96) Jokowi berbeda dengan Joko Tingkir. Bila Joko Tingkir masih keturunan darah biru sehingga wajar menjadi Sultan Pajang, Jokowi bisa dikatakan keturunan Lembu Peteng. Seperti diketahui, Lembu Peteng sering digunakan untuk menggambarkan garis keturunan yang misterius. Sampai sekarang masih banyak yang memperdebatkan tentang sosok ayah Jokowi. Sederet tokoh Lembu Peteng dari Ken Arok sampai Soeharto pernah menjadi penguasa. Sosok Lembu Peteng inilah yang tidak dipahami anak kota seperti Adian Napitupulu. Tak mengherankan, ia mendaku lima kali kemenangan Jokowi adalah berkat PDIP. Jokowi lahir dari keluarga biasa-biasa saja, tak ada darah biru menetes dalam dirinya. Orangtuanya bisa digolongkan bagian dari Abangan, dibanding Santri atau Priyayi. Dalam masyarakat di pedesaan, kaum Abangan ini cukup banyak walaupun tidak pernah unjuk diri. Sebagaimana disampaikan Geertz dalam bukunya yan...

FOOD ESTATE: USAHA JOKOWI UNTUK MENCIPTAKAN KOLEKTIVITAS PERTANIAN

Food estate merupakan program revolusioner Jokowi yang belum pernah dilakukan presiden-presisen sebelumnya. Oleh: Ragil Nugroho (Petani durian, tinggal di Blitar) Setelah Revolusi di Tiongkok, Mao Tse Tung melakukan reformasi agraria yang cukup radikal. Pemerintah membagi-bagikan tanah kepada petani miskin. Mereka yang sebelumnya tak memiliki tanah, dibagikan tanah untuk digarap. Tujuan awalnya, selain agar petani miskin mempunyai tanah, juga mendorong produktivitas pertanian. Tentu saja para petani senang dengan program reformasi agraria Mao. Namun, dalam perjalannya program semacam ini dinilai tak tepat. Mengapa? Dalam buku "Trird Word Whence and Wither",  Wim F. Wertheim, memberikan penjelasan mengapa reforma agraria di Tiongkok saat itu tidak tepat. Pembagian tanah membuat pemerintah harus membuat pematang-pematang sebagai tapal batas kepemilikan tanah. Tak terhitung ribuan pematang harus dibuat. Akibatnya, hal ini justru menghambat metode-metode baru dalam penggarapan ...