Langsung ke konten utama

Postingan

KEDIKTATORAN PDIP (Tanggapan untuk Airlangga Pribadi)

"Airlangga Pribadi memang sedang melempar kotoran ke wajahnya sendiri. Sok sebagai seorang psikolog ia mengatakan ada split personality dalam tubuh PSI. Padahal terpampang jelas bahwa yang mengalami spit personality justru partai yang dipujanya, memakai embel-embel kata demokrasi tetapi tunduk patuh kepada segala kehendak Megawati." Oleh: Ragil Nugroho (Pencemooh Berhati Lembut) Ada bangkai Banteng di pelupuk mata tak tampak, PSI di seberang samudera tampak. Itulah istilah yang pas untuk Airlangga Pribadi. Sebagai pendukung fanatik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ia tak melihat bangkai Banteng di depan matanya. Airlangga Pribadi merupakan  intelektual tukang yang memposisikan diri sebagai tukang gebuk rival politik PDIP dengan berbungkus pengetahuan. Tentu saja hal ini memalukan bagi Universitas Airlangga. Rupanya ada kemajuan di PDIP. Kalau sebelumnya menggebuk PSI lewat simpatisan-simpatisan seperti Deddy Sitorus, Panda Nababan, dan lain-lain, sekarang sudah m...

OFENSIF PDIP TERHADAP PSI

Demoralisasi karena 'tondo-tondo' tadi, Puan Maharani mencoba melunak. Batang lehernya yang selama ini kaku ketika berhadapan dengan PSI, mulai melemas. Ia mencoba tak tampil mendongak lagi. Maka ia membuka pintu untuk bertemu dengan PSI. Oleh: Ragil Nugroho Menurut KBBI ofensif berarti "serangan; bersikap menyerang; bersifat menyinggung perasaan orang lain (biasanya melalui kata-kata)." Itulah yang dilakukan PDIP pasca PSI bertemu Prabowo Subianto. Pertemuan menjelang senja itu ternyata membuat tensi darah PDIP meningkat tajam.  Mulai dari Deddy Sitorus, Panda Nababan, hingga caleg PDIP, Bonnie Triyana, bersikap ofensif terhadap langkah PSI. Kemaluan Banteng seperti ditendang setelah PSI bertemu Prabowo. Ada apa dengan PDIP?  Sikap ofensif ini sebetulnya bentuk kepanikan. Pamor Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP semakin meredup. Sejak penolakan Piala Dunia U 20, berbagai lembaga survei mencatat, elektabilitas Ganjar semakin merosot. Sementara Prabowo semakin moncer. ...

DEDDY SITORUS MENGGONGGONG, PSI BERLALU

PDIP begitu ketakutan bila ditingalkan Jokowi. Maka mereka begitu cemburu bila PSI dekat dengan Jokowi. Tanpa Jokowi, PDIP hanya onggokan kain rombeng di pojok sejarah. Oleh: Ragil Nugroho (Petani Nanas) "Ayo podo minggir Enek banteng liwat Batenge ora tau adus Ambune koyo endog kuwuk." (" Ayo minggir semua Ada banteng lewat Bantengnya tidak pernah mandi Baunya kayak telur busuk ") Entah lagu itu ciptaan siapa. Ia dinyanyikan ketika pawai Pemilu 1955, di kampung saya. PNI dengan tanda gambar banteng segitiga, mendapat ejekan seperti itu dari pendukung partai lain. Kini, PNI telah bersulih menjadi PDIP dengan simbol banteng moncong putih. Apakah "baunya masih kayak telur busuk?" Bila membaca pernyataan Deddy Sitorus selepas pertemuan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan Partai Gerindra, aroma busuk itu masih tercium, bahkan semakin menyengat. Ada ungkapan Deddy Sitorus: "Kan selalu menyerang PDIP, menyerang Ganjar, ya walau dengan dibungkus 'k...

100 TAHUN DIPA NUSANTARA AIDIT

Yang penting dari Aidit adalah pelajaran tentang realisme politik. Politik yang tak was-was dengan situasi yang berubah ubah.  Oleh: Ragil Nugroho (Bukan Mantan PRD) Siapa nyana anak pemuka agama ini suatu hari menjadi ketua partai komunis terbesar ketiga di dunia. Siapa lagi kalau bukan Dipa Nusantara Aidit. Fotonya selalu tampil dengan rambut yang klimis. Tak memelihara kumis seperti Stalin, ia tampak lebih cocok sebagai intelektual dibandingkan pemimpin partai ploretariat. Tak jelas kapan nama Dipa Nusantara mulai ia sematkan untuk menggantikan kata Achmad di depan Aidit. Mungkin ia ingin tampil lebih nasionalis.  Karl Marx ada benarnya, komunis adalah hantu. Sosok hantu adalah sosok yang ditakuti di malam hari. Sosok hantu juga digunakan untuk menakut-nakuti. Maka komunis selalu hadir dalam ruang cemas kehidupan manusia yang fana. Ia hadir untuk menjawab apakah sorga bisa hadir di muka bumi. Tentu tak mudah menjawab. Sejak sosialis utopis Saint-Simon, komune Paris, Manifes...

BUDIMAN SUDJATMIKO DAN ZAMAN BERGERAK: TENTANG ROMANTISME DAN REALISME POLITIK

Hari ini, yang perlu kita waspadai adalah Politik Etis, penghisap bersarung tangan beludru, bukan realisme politik Budiman Sudjatmiko Oleh: Ragil Nugroho (Aktivis 96) Pertemuan Budiman Sudjatmiko dengan Prabowo Subianto memang benar-benar berhasil menyatukan. Dari pemilihara burung, kelompok liberal, anarko hingga kiri paling mentok, bersatu untuk menghujatnya. Mereka yang sudah tercerai berai, memanggul hidup masing-masing, bersatu untuk membikin maklumat mengutuk langkah politik Budiman. Mereka menggelar persamuhan suci setiap 5 tahun sekali, menjaga hati agar tak ternodai. Apakah kehebatan Budiman sehingga bisa mengguncang sedemikian rupa?  Padahal sebelum Budiman, ketua PRD mulai dari Faisol Reza, Haris Rusly Moti hingga Dita Sari, tidak hanya bertemu Prabowo, tapi mendukungnya, kok, seperti lagu Natal, Sunyi Senyap? Tidak ada kutukan bahwa mereka berkhianat. Tidak ada hujatan bahwa mereka berdiri di atas korban-korban penculikan. Dan khotbah-khotbah moral semacamnya. Begitu Bu...

LANGKAH BERANI BUDIMAN SUDJATMIKO

Ia ingin menyampaikan bahwa tidak perlu terus menerus merebus dendam masa lalu. Sebuah rekonsiliasi perlu dilakukan untuk membangun bangsa ini.  Oleh: Ragil Nugroho (Aktivis 96) Pertemuan Budiman Sudjatmiko dengan Prabowo Subianto mendapatkan banyak komentar. Ada yang senang, ada yang sinis ada pula yang mencaci. Komentar-komentar tersebut hal yang wajar dari setiap peristiwa politik. Komentar yang sinis rata-rata dari kolega Budiman di PRD dulu. Komentarnya masih kuno: masalah moral. Bahwa Budiman dianggap tak bermoral karena berangkulan dengan orang yang dianggap menculik teman-temannya sendiri. Foto dirinya yang membungkuk ketika bersalaman dengan Prabowo dianggap bentuk takluk di hadapan lawan politiknya. Mengapa komentar ini kuno? Sejak zaman dahulu sampai sekarang, tidak ada yang bisa menentukan moral siapa yang lebih bersih: kita atau mereka, saya atau lawan saya. Moral ada dalam ukuran pribadi atau kelompok. Ia tidak bisa dijadikan satu ukuran yang bisa dipakai dalam segala...

TERBAKARNYA KANDANG BANTENG DI DEPOK

Kaesang adalah medan pertarungan bagi PSI. Dalam medan ini PSI akan dilihat sebagai petarung atau pecundang ketika berhadapan dengan PDIP Oleh: Ragil Nugroho (Mantan Redaktur Pembebasan) Adalah suatu kewajaran bila Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kalang kabut dengan manuver Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Selama hampir 20 tahun, PKS selalu menguasai Depok. Tak mengherankan ketika PSI hendak mengusung Kaesang, PKS langsung reaktif. Sebagai figur muda, Kaesang berhasil menjadi simbol kekuatan angkatan muda yang hendak mengubah wajah Depok yang terbelakang selama dikuasai PKS menjadi Depok yang modern. Tapi tiba-tiba terjadi keanehan. PKS yang bermain api, PDIP yang terbakar kandangnya. Ada apa ini? Sikap PDIP mirip bocah kurang kreatif. Mereka tak mampu mengikuti perkembangan zaman dalam merespon perpolitikan kiniwari. Mungkin itu karena figur Ketua Umumnya yang semakin uzur, sementara orang-orang di sekitarnya cuma  AMS (Asal Mamak Senang). Akibatnya, ketika partai lain berma...